Siklus Hidup Pengembangan Sistem Informasi

Diposting oleh Dhamar Arif Rahman | Label: | Posted On Rabu, 12 Maret 2014 at 06.09




SDLC (Systems Development Life Cycle, Siklus Hidup Pengembangan Sistem) atau Systems Life Cycle (Siklus Hidup Sistem), dalam rekayasa sistem dan rekayasa perangkat lunak, adalah proses pembuatan dan pengubahan sistem serta model dan metodologi yang digunakan untuk mengembangkan sistem-sistem tersebut. Konsep ini umumnya merujuk pada sistem komputer atau informasi. SDLC juga merupakan pola yang diambil untuk mengembangkan sistem perangkat lunak, yang terdiri dari tahap-tahap: rencana(planning), analisis (analysis), desain (design), implementasi (implementation), uji coba (testing) dan pengelolaan (maintenance).
Dalam rekayasa perangkat lunak, konsep SDLC mendasari berbagai jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metodologi-metodologi ini membentuk suatu kerangka kerja untuk perencanaan dan pengendalian pembuatan sistem informasi, yaitu proses pengembangan perangkat lunak.
Terdapat 3 jenis metode siklus hidup sistem yang paling banyak digunakan, yakni: siklus hidup sistem tradisional (traditional system life cycle), siklus hidup menggunakan prototyping (life cycle using prototyping), dan siklus hidup sistem orientasi objek (object-oriented system life cycle).

Tahap-Tahap SDLC

Tahap Perencanaan

Pada tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan sestem informasi apa yang akan dikembangkan, sasaran-sasaran yang ingin dicapai, jangka waktu pelaksanaan serta mempertimbangkan dana yang tersedia dan siapa yang melaksanakan.
Tahap perencanaan menjadi penting karena:
  •  Permasalahan yang sebenarnya didefinisikan dan diidentifikasikan secara rinci Misalnya, pada pembangunan SI permasalahan-permasalahan yang melingkupinya didefinisikan, seperti penciptaan alur data dan informasi yang efisien, prosedur transaksi dan penyajian informasi secara komunatif pada layar monitor. Selanjutnya, perlu merumuskan tentang kasus-kasus bisnis yang ingin diselesaikan dan total investasi TI yang akan disediakan. Setelah itu,perlu disusun rencana aksi yang konkret termasuk perencanaan aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan, pembangunan dan penyebarannya
  •  Pembangunan SI harus diarahkan pada peningkatan keunggulan kompetitif.
  •  Perubahan aliran informasi akan terjadi secara besaran-besaran di dalam organisasi.
  •  Implementasi teknologi komputer akan membawa dampak bagi tenaga kerja di dalam organisasi.


Beberapa keuntungan dari Perencanaan SI berbasis komputer, adalah:
  • Meningkatkan komunikasi antara manajer, pemakai dan pembuat.
  • Meningkatkan efektifitas penggunaan sumber daya organisasi.
  • Mendukung komunikasi untuk pertanggungjawaban kegiatan yang dilakukan oleh individu maupun departemen.
  • Mendukung proses evaluasi.
  • Memungkinkan para manajer untuk mengelola pembangunan system jangka panjang.
Untuk pengembangan sistem yang relatif besar, biasanya dibentuk suatu tim yang terdiri dari manajemen, user, dan staf ahli teknologi informasi. Tim tersebut ada yang berfungsi sebagai tim pengarah (steering committee) yang berfungsi untuk menyetujui atau menolak suatu proyek pengembangan system informasi.
Perencanaan sistem dimulai setelah adanya usulan baik dari intern maupun ekstern, kemudian dilanjutkan dengan keputusan manajemen. Bila manajemen menyetujui rencana atau usulan tersebut akan disusun suatu kerangka acuan kerja dan anggaran. Setalah kerangka acuan kerja dan anggaran telah ditetapkan, akan ditunjuk konsultan pelaksana (intern atau ekstern) untuk mengajukan proposal. Proposal ini akan dievaluasi untuk mengetahui apakah proyek tersebut layak atau tidak untuk dilanjutkan.

Usulan

Usulan perubahan sistem dari internal biasanya berisi:
  •  Adanya permasalahan yang dihadapi sistem yang lama seperti biaya operasional yang tinggi.
  • Pembuatan order yang sering terlambat dan laporan yang tidak up to date.
  • Penyempurnaan terhadap sistem yang ada seperti efisiensi atau kontrol.

Keputusan Manajemen

Usulan-usulan tersebut harus mendapat persetujuan dari manajemen karena menyangkut biaya, perubahan system kerja (uraian kerja dan tanggung jawab), keamanan data, hubungan dengan pelanggan .

Kerangka acuan kerja

Setelah mendapatkan persetujuan dari manajemen, selanjutnya akan dibentuk tim yang dapat terdiri dari devisi-devisi yang terkait untuk menyusun kerangka acuan kerja yang menyangkut :
  • latar belakang
  • Maksud dan tujuan
  •  Sasaran proyek
  • Ruang lingkup pekerjaan
  • Jangka waktu pelasanaan
  • Prioritas pekerjaan

Anggaran (Dana)

Berdasarkan kerangka acuan kerja diatas , disusunlah anggaran / dana untuk hardware, software, pelatihan SDM, pemeliharaan dan cadangan untuk keperluan yang tidak terduga.

Penunjukan tim pelaksana

Setelah semua kegiatan diatas diketahui, selanjutnya diputuskan apakah pengembangan sistem informasi akan dilakukan oleh perusahaan atau oleh pihak konsultan. Setelah menetapkan pelaksana, diminta untuk memasukkan proposal pelaksanan sistem informasi sesuai dengan kerangka acuan kerja. Proposal tersebut akan dievaluasi untuk menetapkan apakah proyek tersebut layak dilaksanakan atau tidak.

Menilai kelayakan proyek

Penilaian kelayakan proyek mencakup kelayakan operasional, teknis dan ekonomis. Dalam praktek, yang dominan dinilai umumnya aspek ekonomisnya (dana).
  • Kelayakan Operasional
    Menyangkut apakah secara operasional sistem yang baru dapat dilaksanankan dengan sumber daya manusia yang tersedia dan metode training yang ditawarkan, pelayanan purna jual / pemeliharaan serta efisiensi dan efektifitas system baru
  • Kelayakan Teknis
    Menyangjut apakah radware / software yang akan dikembangkan tersedia, jadwal pelaksanaan serta sistem keamanan data.
  • Kelayakan ekonomis
    Menyangkut biaya untuk membuat dan menjalankan sistem baru serta keuntungannya yang akan diperoleh dari sistem tersebut.

Tahap Analisis

Tahap Analisa sistem merupakan kegiatan penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan – permasalahan, kesempatan – kesempatan, hambatan – hambatan yang terjadi dan kebutuhan – kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikannya

Mengidentifikasi Masalah

Identifikasi masalah merupakan langkah awal dari analisa sistem. Dalam tahap ini didefinisikan masalah yang harus dipecahkan dengan munculnya pertanyaan yang ingin dipecahkan.

Memahami Kerja Sistem yang Ada

Langkah ini dilakukan dengan mempelajari secara rinci bagaimana sistem yang sudah ada berjalan. Untuk mempelajari operasi dari sistem ini diperlukan data yang dapat diperoleh dengan melakukan penelitian terhadap sitem.

Menganalisis Sistem

Berdasarkan data yang sudah diperoleh maka dilakukan analisa hasil penelitian yang sudah dilakukan untuk mendapatkan pemecahan masalah yang akan dipecahkan

Membuat Laporan

Laporan perlu dibuat sebagai dokumentasi dari penelitian. Tujuan utamanya adalah sebagai bukti secara tertulis tentang hasil analisa yang sudah dilakukan.
Pada tahap ini tim pembuat sistem akan menganalisis permasalahan lebih mendalam dengan menyusun suatu studi kelayakan
Menurut Mc. Leod terdapat 6 dimensi kelayakan :
  1. Kelayakan teknis adalah menganalisis k etersediaan perangkat keras, perangkat lunak dan organisasi untuk melaksanakan proses yang diperlukan.
  2. Pengembalian ekonomis adalah menganalisis manfaat, penggunaan dan potensi pengembalian secara ekonomis dari pembangunan sistem itu. Dengan memantau sejauh mana penghematan dapat dilakukan, maka peningkatan pendapatan dan kemampulabaan dapat diperoleh sehingga perusahaan dapat merasakan manfaat nyata dari pembangunan SI tersebut.
  3. Pengembalian non-ekonomis adalah menganalisis manfaat, penggunaan, potensi dan keuntungan-keuntungan yang tidak dapat diukur secara finansial, seperti ketersediaan informasi yang akurat dan up to date setiap saat, citra perusahaan, moral karyawan, layanan konsumen yang semakin memikat dan penguatan posisi perusahaan terhadap para pesaingnya.
  4. Hukum dan etika adalah menganalisis apakah sistem yang dibuat akan beroperasi dengan batasan hukum dan etika pada umumnya dan kultur perusahaan pada khususnya.
  5. Operasional adalah menganalisis apakah sistem dapat diimplementasikan. Hal ini menyangkut analisis terhadap tempat lingkungan dan sumber daya manusia yang akan mengoperasikannya. Untuk memperoleh informasi yang tepat dari para pemakai, baik dari sisi perusahaan maupun dari sisi konsumen, fapat digunakan model kuesioner. Hal-hal yang berkaitan langsung dengan para pemakai antara lain model antarmuka yang interaktif dan komunikatif, prosedur pengoperasian dan lain sebagainya.
  6. Jadwal adalah menganalisis apakah mungkin dalam keterbatasan waktu yang ada, sistem tersebut dapat disusun dan diselesaikan
Studi Kelayakan juga harus dilakukan terhadap Faktor-faktor berikut ini agar pemodelan sistem informasi dapat digunakan dalam lingkup yang tepat:
  1. Kelayakan organisasi adalah sejauh mana organisasi mendukung dan memprioritaskan pembangunan SI? Tanpa dukungan yang penuh, SI tidak dapat terbentuk.
  2. Memilih kelompok bisnis atau pasar sasaran mana yang akan menjadi tujuan penetrasi produk-produk yang akan dipasarkan. Pasar sasaran yang dipilih berarti juga menentukan siapa pemakai sistem tersebut kelak setelah jadi.
  3. Melihat kemungkinan-kemungkinan permodalan adalah besarnya modal yang dapat dihimpun tentu akan mempengaruhi perancangan kinerja sistem. Bila modal yang tersedia besar, maka diperkirakan sistem yang dibangun sudah melibatkan teknologi-teknologi terkini.
  4. Tingkat kompetisi produk harus dapat dideteksi dengan baik. Tingkat kompetisi akan mempengaruhi pembangunan sistem. Oleh karena itu, pembangunan sistem harus dilakukan dengan berorientasi pada pemakai, karena pemakailah yang akan memberi penilaian terhadap sistem dalam lingkungan kompetisi yang sangat ketat.
  5. Lingkungan operasional sistem. Di mana sistem akan dioperasikan? Apakah hanya di dalam toko atau dapat diakses secara bebas melalui komputer pribadi atau warnet-warnet? Hal ini akan mempengaruhi perancangan terhadap fleksibilitas sistem.
  6. Sistem harga. Apakah dalam melakukan transaksi, harga produk didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan atau ada aturan-aturan pemberian diskon atau bahkan terjadi tawar-menawar. Pemodelan sistem harga ini tentunya akan menentukan model pemasukan data dalam sistem.

Desain Sistem

Analisis sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan what ?
Desain sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan how ?
Desain berkonsentrasi pada bagaimana sistem dibangun untuk memenuhi kebutuhan pada fase analisis

Manfaat desain sistem adalah memberikan gambaran rancang bangun (blue print) yang lengkap, sebagai penuntun (guideline) bagi programmer dalam membuat aplikasi

Sistem informasi yang terkomputerisasi setidaknya terdiri dari:
Hardware: terdiri dari komponen input, proses, output, dan jaringan
  • Software: terdiri dari sistem operasi, utilitas, dan aplikasi
  • Data: mencakup struktur data, keamanan dan integritas data
  • Prosedur: seperti dokumentasi, prosedur sistem, buku petunjuk operasional dan teknis
  • Manusia: pihak yang terlibat dalam penggunaan sistem informasi

Beberapa hal yang dilakukan dalam desain sistem adalah:
  • Pemodelan sistem
  • Desain Basis data
  • Desain Aplikasi
  • Desain Perangkat Keras/Jaringan
  • Desain Jabatan/Deskripsi Pengguna

Pembuatan Sistem

Buatlah aplikasi berdasarkan rancangan yang telah dibuat Selain aplikasi, buatlah juga buku panduan penggunaan aplikasi agar mudah saat melakukan training pada saat implementasi.

Lakukan testing aplikasi, diantaranya:
* Testing performa
* Testing program logic / sintaks
* Testing implementasi bisnis rules
* Testing faktor manusia
* Testing bisnis proses / prosedur
* Testing efisiensi input
* Testing ouput

Implementasi Sistem

Sebelum implementasi, lakukanlah persiapan secara matang mengenai perangkat keras, perangkat lunak, ruangan dan fasilitas pendukung lainnya.

Beberapa hal yang juga penting diperhatikan dalam implementasi sistem adalah:
  • Konversi
    Biasanya diperlukan konversi dari sistem lama ke sistem baru, apalagi jika sebelumnya juga telah menggunakan aplikasi terkomputerisasi
  • Pelatihan
    Lakukan pelatihan secara menyeluruh untuk setiap pihak yang menggunakan. Jangan lupa lakukan sosialisasi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam sistem namun tidak menggunakan aplikasi sistem secara langsung.
  • Testing Penerimaan
    Lakukan testing selama periode tertentu sebagai proses belajar.

Pemeliharaan Sistem

Tahapan pemeliharaan sistem mencakup seluruh proses yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan, kelancaran, dan
penyempurnaan sistem yang telah dioperasikan.

Beberapa hal yang harus dilakukan:
  • Pemantauan pengoperasian
    Libatkan tim pengembang untuk memantau secara langsung pada waktuwaktu tertentu mengenai bagaimana pihak-pihak pengguna mengoperasikan sistem yang dibuat.
  • Antisipasi gangguan kecil (bug)
    Biasanya selalu ada gangguan kecil dalam suatu aplikasi yang baru dikembangkan.
  • Lakukan penyempurnaan
  • Antisipasi faktor-faktor luar
    Virus, kerusakan/kehilangan data, atau sistem diakses oleh pihak luar
sumber

Diposting oleh Dhamar Arif Rahman | | Posted On Senin, 18 November 2013 at 07.58

SISTEM PELCAKAN POSISI KENDARAAN DENGAN TEKNOLOGI GPS & GPRS BERBASIS WEB

Berdasarkan data dari Reskrim POlda Mero Jaya, setiap bulan tercatat rata-rata terjadi 910 kasus pencurian kendaraan bermotor. Sepanjang tahun 2008 dari awal januari hingga agustus terdapat 7282 kasus pencurian kendaraan bermotor. Dengan tingginya angka kejahatan pencurian diciptakanlah system pelacakan posisi kendaraan dengan teknologi GPS dan GPRS berbasis web yang bertujuan memberikan kemudahan pemilik kendaraan untuk memantau posisi kendaraanya secara real time dan diharapkan mampu mengatasi masalah masalah diatas. Perancangan system dilakukan dengan perancangan algoritma system pelacakan kendaraan menggunakan teknologi GPS dengan memanfaatkan Google Maps melalui komunikasi GPRS dan membuat parsing data dari data yang diterima oleh web server dari perangkat GPS tracker AVL 709 yang selanjutnya dimplementasi kedalam pemrograman web. Berdasarkan percangan system , hasil sinkronisasi informasi data hasil parsing dan google map menggunakan Goolge maps API dengan javascript. Keakuratan system ini dalam menampilkan koordinat lokasi sebesar 99,92%.
Kata-Kata kunci : pelacakan GPS, peta google, program antarmuka.
1.      PENDAHULUAN
Saat ini kebutuhan  terhadap pemantauan posisi pada kendaraan bermotor semakin banyak. Hal ini dapat dilihat dari kasus-kasus pencurian kendaraan bermotor yang terus marak, bahkan berdasarkan data dari Reskrim Polda Metro Jaya setiap bulan tercatat rata-rata terjadi 910 kasus pencurian kendaraan bermotor.   Sepanjang  tahun  2008  dari  awal  Januari  hingga Agustus terdapat 7.282 kasus pencurian kendaraan bermotor, sementara tahun 2007 sebesar 11.620 kasus, dan di tahun 2006 adalah 10.791 kasus (Anonim, 2008). Teknologi yang digunakan untuk memantau kendaraan tersebut biasanya menggunakan komunikasi suara melalui handy talky, komunikasi data melalui radio trunking yang juga sudah dilengkapi dengan GPS (Global Positioning        Sistem). Cara-cara seperti ini memerlukan pembangunan   infrastruktur   sendiri   dan   memiliki   jangkauan kurang jika area sudah sampai antar kabupaten, propinsi, pulau bahkan negara. Kemajuan teknologi penentuan lokasi seperti GPS berkembang pesat dengan tingkat akurasi yang semakin teliti, bermacam variasi, dan semakin murah. Posisi dapat diketahui jika membawa alat yang diberi nama GPS receiver yang berfungsi untuk menerima sinyal dari satelit GPS. GPS receiver berbentuk modul yang menghasilkan informasi data posisi.

Pada   artikel   akan   didesain   rancangan   algoritma   system pelacakan  menggunakan  teknologi  GPS dengan  memanfaatkan Google Maps melalui komunikasi GPRS.  Dengan adanya alat ini maka keberadaan kendaraan yang terpasang peralatan ini dapat dideteksi keberadaannya melalui web.

2.      KAJIAN PUSTAKA

Sistem  pelacakan  kendaraan  pertama  kali  dibangun  untuk industri  pengiriman  karena  mereka  ingin  mengetahui  setiap sarana angkutnya disetiap waktu. Pada awal diciptakanya system. pelacakan ini menggunakan teknologi GPS yang dipasang pada kendaraan namun bersifat pasif, jadi sistem ini dianggap kurang efektif karena penyimpanan informasi lokasi yang diperoleh GPS didalam media penyimpanan internal, pemilik akan tahu lokasi mana  saja  yang  telah  dikunjungi  kendaraan  tersebut  setelah melihat data yang direkam di media penyimpanan (Jamaludin,2010). Sesuai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, maka diciptakanlah sistem pelacakan kendaraan yang bersifat aktif. Teknologi pelacakan kendaraan yang bersifat aktif ini memanfaatkan perangkat GPS receiver yang digabungkan dengan perangkat GSM/GPRS sebagai media pengirim data yang telah diterima oleh GPS ke server, dalam hal ini server akan berperan sebagai  penerima  data,  mengolah  data  dan  menampilkan  data yang telah diolah tadi. Perangkat GPS receiver yang telah di integrasikan dengan GSM/GPRS ini disebut dengan AVL (Automatic Vehicle Locator) (Anonim, 2011).






2.1  Global Positioning System

GPS adalah  satu-satunya sistem  navigasi  satelit. Sistem  inimenggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya adalah NAVSTAR GPS, NAVSTAR adalah nama yang diberikan oleh John Walsh, seorang penentu kebijakan penting dalam program GPS. Cara kerja sistem ini menggunakan sejumlah satelit yang berada di orbit bumi, yang memancarkan sinyalnya ke bumi dan ditangkap oleh sebuah alat penerima. Ada tiga bagian penting dari sistim ini, yaitu bagian kontrol, bagian angkasa, dan bagian pengguna.  Bagian  kontrol  bertugas  untuk  mengontrol  setiap satelit navigasi yang beredar di luar angkasa, karena setiap satelit memiliki  kemungkinan  berada  sedikit  diluar  orbit,  Bagian  ini dapat melacak orbit satelit, lokasi, ketinggian, dan kecepatan dari satelit-satelit tersebut. Sinyal-yang dikirim oleh satelit diterima oleh bagian kontrol, dikoreksi, dan dikirimkan kembali ke satelit. Koreksi data lokasi yang tepat dari satelit ini disebut dengan data ephemeris, yang nantinya akan di kirimkan kepada alat navigasi
(Anonim, 2010).

2.2  Komunikasi GPRS

GPRS merupakan sistem transmisi berbasis paket untuk GSM yang menggunakan prinsip 'tunnelling'. GPRS menawarkan laju data yang lebih tinggi, yaitu hingga 160 kbps. Kanal-kanal radio ganda dapat dialokasikan bagi seorang pengguna dan kanal yang sama dapat pula digunakan dengan berbagi antar pengguna sehingga menjadi sangat efisien. Dari segi biaya, harga mengacu pada volume penggunaan. Penggunanya ditarik biaya dalam kaitannya  dengan  banyaknya  byte  yang dikirim  atau  diterima, tanpa memperdulikan panggilan, dengan demikian dimungkinkan GPRS akan menjadi lebih cenderung dipilih oleh pelanggan untuk mengaksesnya daripada layanan-layanan IP (Anonim, 2010).
GPRS merupakan teknologi baru yang memungkinkan para operator jaringan komunikasi bergerak menawarkan layanan data dengan laju bit yang lebih tinggi dengan tarif rendah ,sehingga membuat layanan data menjadi menarik bagi pasar massal. Para operator jaringan komunikasi bergerak di luar negeri kini melihat GPRS sebagai  kunci untuk mengembangkan pasar komunikasi bergerak  menjadi  pesaing  baru  di  lahan  yang  pernah  menjadi milik jaringan kabel, yakni layanan internet. Kondisi ini dimungkinkan karena ledakan penggunaan internet melalui jaringan kabel (telepon) dapat pula dilakukan melalui jaringan bergerak.  Layanan  bergerak  yang  kini sukses di  pasar  adalah, laporan cuaca, pemesanan makanan, berita olah raga sampai ke berita-berita penting harian. Dari perkembangan tersebut, dapat dirasakan  dampaknya  pada  kemunculan  berbagai  provider  HP yang bersaing menawarkan tarif GPRS yang semakin terjangkau.

3.      Metode

Sistem  pelacakan  posisi  kendaraan  ini  memiliki  beberapa
elemen penyusun, yaitu satelit, GPS Tracker, jaringan GPRS, server, dan klien. Tiap-tiap  elemen memiliki fungsi dan  tugas masing-masing, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.



Gambar 1. Blok Diagram Sederhana Sistem

Cara kerja system pelacakan kendaraan dengan teknologi GPS dan GPRS berbasis WEB ini dapat dilihat pada blok diagram diatas, pada awalnya GPS receiver pada modul perangkat GPS tracker menerima sinyal informasi dari satelit. Satelit gps receiver pada modul perangkat GPS yang berupa koordinat satelit dan informasi waktu. Kemudian GPS receiver tersebut akan dapat menentukan posisinya dengan menggunakan perhitungan triliterasi berdasarkan koordinat –koordinat posisi satelit tadi.
          
Proses selanjutnya adalah mensinkronisasi perangkat GPS tracker dan web server dengan koneksi socket agat perangkat GPS tracker dapat mengirimkan datanya ke web server. Untuk membuat koneksi socket dilakukan penyetingan alamat IP dan port yang digunakam oleh web serer. Perangkat gps dan tracker akan melakukan koneksi kepada alamat IP dan port yang telah disetting tadi, sementara web server menerima dan mendengarkan koneksi dari perangkat GPS tersebut dengan menggunakan aplikasi PHP. Jika koneksi tesebut berhasil, , modul GSM/GPRS pada perangkat GPS tracking akan mengirimkan data informasi lokasi yang telah diperoleh GPS receiver ke web server dengan GPRS sebagai media pengirimian.
            Data informasi lokasi gps yang diterima oleh web server berupa frame data yang merupakan data utuh dan tidak bias langsung disimpan ke database . maka sebelum frame data GPS tersebut dsimpan ke database , dilakukan proses pemilahan data atau parsing data ayng bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk ditampilkan nantinya dengan menggunakan aplikasi php pada web server. Proses parsing ini merupakan proses mengambil bagian-bagian yang diperlukan pada frame data gps, menjadikan masing – masing bagian tersebut menjadi variable tertentu , dan kemudian memberikan identitas pada variable – variable tersebut, misalnya longitude , latitude altidute dan kecepatan , sehingga dapat mudah untuk dimasukkan ke database.
            Setelah itu data hasil parsing yang telah dismpan dari database diambil dan kemudian diolah oleh we server dengan menggunakan aplikasi php yang terintegrasi dengan fasilitas google maps, yaitu google maps api. Dengan menggunakan google apu, data hasil parsing yang berupa koordinat lokasi dan beberapa keterangan lainyya kinidapat ditampilkan dalam bentuk peta pada google mpas yang dapat diakses dengan web browser.


4.      Pembahasan Dan analisis

4.1  Hasil Input Data ke Tabel di Database

Setelah frame data informasi posisi kendaraan diterima oleh server, akan dilakukan proses parsing data dan hasil parsing tersebut dimasukkan ke dalam 2 buah tabel pada database, table sebagai identitas  urutan row pada tabel, field  lati adalah field yang berfungsi sebagai identitas latitude, field longi adalah field yang  berfungsi  sebagai   identitas   longitude,   field   alti   yang berfungsi   sebagai   identitas   altitude,   dan   field   speed   yang berfungsi sebagai identitas  kecepatan. Gambar 2 menunjukkan Tampilan ketika data pertama kali masuk ke tabe “tracking” pada database pada saat kendaraan dalam posisi belum.




Gambar 2 : Pada data table “tracking” di database ketika kendaraan diam

Tabel “Tracking” hanya didesain memiliki 1 row saja dan tidak  akan  menambahkan  row  lagi  untuk  menyimpan  data   yang diterima selanjutnya, dengan tujuan tidak akan terjadi over capacity. Jadi data yang diterima selanjutnya akan menggantikan data sebelumnya.

4.2  Hasil Interface map dengan google maps API
Data yang berada pada database “tracking” diambil dengan menggunakan  aplikasi PHP  dan  diintegrasikan  dengan  Google API sehingga data tersebut dapat ditampilkan pada Google Maps yang dapat diakses melalui web browser sebagai media penampil. Berikut ini adalah Google Maps yang menunjukkan posisi kendaraan berdasarkan data yang diambil dari database pada table. Tracking ketika diakses menggunakan web browser .

Gambar 3. Hasil Interface Map dengan Google Maps API

Gambar 3 menunjukkan posisi kendaraan yang dapat diketahui pada map, terdapat          pula keterangan               latitude, longitude, ketinggian, dan kecepatan kendaraan tersebut yang akan muncul pada pop up jika marker diklik.Untuk menentukan tingkat keakurasian Google Maps dalam menampilkan koordinat lokasi, dilakukan perbandingan antara jarak antara lokasi yang ditampilkan oleh Google Map  dan zero point dengan jarak antara lokasi real dan zero point. Zero point disini merupakan titik referensi            yang     digunakan                      dalam   pengukuran. Dalam implementasinya, diambil satu sampel koordinat dan ditampilkan di Google Maps kemudian diukur jaraknya dari zero point.Untuk mengukur jarak antara lokasi  yang  ditampilkan Google Maps  dengan  zero  point,  digunakan  kalkulator  penghitungan jarak yang terdapat pada situs www.movable-type.co.uk. Situs ini menyediakan fasilitas penghitungan jarak antar titik pada Google Maps. Gambar 4 menunjukkan jarak antara koordinat sample dengan zero point adalah 12500 Km.









Gambar 4 Pengukuran jarak menggunakan kalkulator di www.movable-type.co.uk.

Untuk pengukuran jarak real dengan zero point , perhitungan dilakukan dengan memasukkan koordinat lokasi yang sama pada kalkulator yang ada pada  www.movable-type.co.uk. Menyediakan fasilitasi perhitungan jarak antara dua lokasi dengan input kordinat. Dari hasil pengukuran ini diperoleh hasil 12490,33753848075 km dan dapat dibulatkan menjadi 12490 km. dari kedua  hasil perhitungan ini kemudian digunkana suatu rumus sederhana untuk menentukan tingkat keakurasian dari google maps dalam menampilkan suatu titik koordinat lokasi.











5.      Penutup

Penerepan siste pelacakan lokasi kendaraan dengan menggunakan teknologi GPS dan GPRS berbasis WEB , disimpulkan sebagai berikut :

·         Dari hasil perancangan algoritma, sistem pelacakan posisi kendaraan, yaitu penampil data koordinat dalam bentuk map dan penampil data history
·         Proses parsing data frame yang diterima oleh server dari perangkat dapat diperoleh informasi yang diperlukan sebagai berikut : latitude (lintang), Longitude (bujur), Altitude  (ketingiian  dari permukaan  air laut),  Velocity (kecepatan)
·         Sebagai history pada database , yaiut table “tracking ” yang berfungsi sebagai buffer data dan table “log” yang berfungsi
·         Hasil sinkronisasi informasi dari data hasil parsing dan Google Maps menggunakan Google Maps API dengan Javascript sebagai bahasa pemrogramannya.
·         Dibandingkan dengan Bing Maps, Google Maps memiliki
keunggulan dalam detail peta yang digunakan dan tingkat keakurasian system pelacakan kendaraan dengan memanfaatkan Google Maps sebagai media interface dalam menampilkan koordinat lokasi yang diberikan adalah sebesar 99,92.


Saran yang dapat diberikan adalah:
·         Untuk penambahan perangkat AVL 709 yang diintegrasikan dengan  web  server  maka perlu ditambahkan  pengambilan Data “hardware ID” ketika melakukan proses parsing data  agar dapat dibedakan antara data yang dikirim antara perangkat satu dengan yang lainya, selain itu perlu juga ditambahkan  tabel  pada database  untuk  masing  perangkat agar mempermudah pengolahan data.
·Jika perangkat yang digunakan pada sistem ini lebih dari satu maka perlu dibuat fitur login pada web server, ja di hanya pemilikkendaraan yang dapat mengetahui posisi kendaraanya setelah melakukan login terlebih dahulu

6.      Daftar pustaka

·         Anonim,  13  oktober  2008,  data  kriminalitas  2008,  http://detik News.com, diakses tanggal 1 juli 2011.
·         Anonim nonpersonal,10 februari 2011,Automatic vehicle location,http://en.wikipedia.org/wiki/Automatic_vehicle_loc ation , diakses tanggal 23 Juni 2011
·         Anonim, 13     Maret     2010,     system     pemosisi    global,
·         Anonim, 21 Juni 2010, GPRS, http://id.wikipedia.org/wiki/GPRS
,diakses tanggal 25 Juni 2011
·         Anonim, 8    Juli    2011,    Transmission   Control    Protocol, http://en.wikipedia.org/wiki/Transmission_Control_Protocol, diakses tanggal 26 Juni 2011
·         Jamaludin, Asep.   2010.    Pembangunan   Aplikasi    Untuk Pemantauan Pergerakan Kendaraan  Pada Sistem  Tanjakan Berbasis       Gps,             http://dir.unikom.ac.id/s1-final- project/fakultas-teknik-dan-ilmu-komputer/teknik- informatika/2011/18-unikom-a-n.pdf
·         Kaswidjanti,      Wilis.          2009.         Teknologi         Gprs,